Rabu, 10 November 2010

Aktivitas Masih Tinggi, Intensitas Letusan Menurun

Aktivitas Masih Tinggi, Intensitas Letusan Menurun PDF Print
Thursday, 11 November 2010
YOGYAKARTA(SINDO) – Sepanjang hari kemarin Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas dan material vulkanik lain.Aktivitas Merapi masih tinggi dan membahayakan, meski intensitas letusan menurun.


”Kami masih sulit memprediksi sampai kapan energi dan tekanan dari dalam Merapi akan berakhir.Merapi masih sangat fluktuatif. Kadang letusannya membesar, kemudian mengecil,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono di Yogyakarta. Kemarin gemuruh suara dari puncak juga sesekali terdengar.Kondisi ini terjadi sejak pukul 02.00 WIB hingga sore hari.Cuaca cerah membuat muntahan material vulkanik ke udara terlihat jelas darikota YogyakartamaupunKlaten. Gumpalan awan panas berwarna hitam pekat tampak membubung di atas langit Merapi.

Angin menggiring awan panas ke arah barat (Kota Magelang) dengan kecepatan sedang. Sesekali terlihat luncuran lava dengan volume sedang hingga besar. Pada pukul 06.46 sempat terjadi hujan abu dan material di sekitar Merapi dalam radius kurang dari 15 kilometer.Volume kepulan asap ini terus meningkat hingga berubah warna kecokelatan sekitar pukul 09.00.Hingga siang hari kondisi ini terus stabil dengan volume yang lebih besar. Arah angin tetap membawa kepulan awan tersebut ke arah barat menyebabkan hujan abu di Kota Magelang. Jarak aman ditetapkan pada kilometer 20. ”Meski letusan Merapi yang terjadi saat ini berkisar pada ketinggian 500-1.000 meter atau maksimal pada 2.000 meter,energi dan tekanan magma di dalam masih cukup besar,”kata Surono.

Masyarakat sekitar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Merapi, termasuk warga Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Sudirman, petugas pengamanan warga Dusun Brunggang, Argomulyo,Cangkringan,melarang wargaberlama-lamadilokasi.Cangkringan adalah salah satu wilayah yang rusak parah akibat letusan Merapi.Kecamatan Cangkringan di Kabupaten Sleman,DI Yogyakarta, tampak layaknya kota mati. Sejak diterjang awan dan lumpur lava panas Gunung Merapi, Jumat (5/11),warga Cangkringan terpaksa meninggalkan desa.Akibat dari itu kini tidak ada aktivitas masyarakat di sana pada umumnya, hanya segelintir warga yang berjaga dan mengambil barang.

Camat Cangkringan Samsul Bakri menjelaskan wilayah dengan 29.000 penduduk yang tersebar di 73 dusun itu telah ditinggalkan warga yang mengungsi. Sebelum musibah, roda perekonomian digerakkan masyarakat Cangkringan yang bermata pencarian sebagai peternak, penambang, petani,dan berdagang. Hingga kemarin,jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda DI Yogyakarta bersama TNI terpaksa menutup Jalan Kaliurang menuju Gunung Merapi, tepatnya di kilometer 14.

”Penutupan terkait status awas Merapi,” ungkap Kompol Bambang Wardani di lokasi.Kepala Bagian Humas Kabupaten Sleman Endah Sri Widiastuti menjelaskan, saat ini pengungsi Sleman hingga Selasa (9/11) tercatat ada 94.615 orang. Pengungsi tersebar ke seluruh wilayah Sleman bahkan ke wilayah kota tetangga di DIY.

Orang Hilang Bertambah

Sementara itu, laporan warga yang merasa kehilangan anggota keluarga setelah bencana letusan Gunung Merapi terus bertambah. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Daerah Istimewa Yogyakarta hingga kemarin menerima 241 laporan.Angka itu bertambah dari sehari sebelumnya,213 orang. Salah seorang anggota Posko Tim DVI Polda DIY di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sardjito menjelaskan bahwa petugas terus menerima laporan kehilangan warga yang tinggal di sekitar Merapi. Beberapa warga yang datang langsung di antaranya menyerahkan foto anggota keluarganya yang hingga kini tidak diketahui keberadaan.

Ada pula yang memberikan informasi bentuk organ tubuh seperi kondisi gigi.Bagian Forensik RSUP Sardjito juga kemarin menerima dua korban tewas yang ditemukan di sekitar Gunung Merapi, kemarin yakni Rubinah dan Sarimin.Dengan temuan ini berarti ada penambahan korban tewas yang satu hari sebelumnya tercatat 106 orang. (adam prawira/ isfari hikmat/mn latief)

Sebagian Permukaan Tanah Mentawai Naik

Sebagian Permukaan Tanah Mentawai Naik
Laporan wartawan KOMPAS Ingki Rinaldi
Kamis, 11 November 2010 | 01:19 WIB
AP Photo/Achmad Ibrahim
Tsunami meratakan segala yang tegak di sebagian Pulai Pagai, Sumatera Barat, kecuali surau kecil di kawasan tepi pantai ini.
PADANG, KOMPAS.com - Sebagian wilayah permukaan di Pulau Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat diketahui naik setelah gempa dan tsunami pada Senin (25/10/2010) malam lalu.

Hal itu disampaikan peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto yang baru saja usai melakukan penelitian di sebagian wilayah Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, Rabu (10/11/2010).
Menurut dia, berdasarkan pengukurannya, memang terdapat kenaikan wilayah daratan pada wilayah antara Dusun Asahan di Desa Bulasat dan Dusun Purourougat di Desa Malakopak, Kacamatan Pagai Selatan dengan ketinggian mencapai 1,3 meter.

Berdasarkan pantauan Kompas saat menyisir wilayah pantai barat Pulau Pagai Selatan, juga terdapat susunan batu-batu karang raksasa yang menurut sejumlah penduduk, tidak pernah ada sebelum tsunami terjadi.

Namun, menurut Eko, batu karang raksasa itu kemungkinan juga susunan koral dari laut yang dibawa gelombang tsunami.   

Obama Pulang Kampung

Obama Pulang Kampung PDF Print
Thursday, 11 November 2010
SEBAGIAN dari pembaca mungkin kurang senang dengan Amerika dan kurang bisa menerima kedatangan Obama.


Kedatangan Obama membuat lalu lintas Jakarta macet. Sebagian lagi, entah belajar dari mana, menyatakan amarahnya kepada Obama dengan kalimat-kalimat yang menyeramkan di akun Facebook.Sama seperti sekelompok pemuda yang menggelar spanduk besar di depan pintu gerbang Kampus UI saat Obama datang kemarin dengan tulisan ”Tolak Obama”. Tapi ribuan anak muda yang lain, hari Rabu ikut antre bersama dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, pelajar SMA, guru, dosen, dan para intelektual menyambut Obama pulang kampung.

Di depan saya ada rombongan para bidan yang sedang melanjutkan studi di UI ikut antre berdesak-desakan dengan para guru besar dan pelajar, bersama-sama dengan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail. Mereka semua berteriak gembira saat mendengar ucapan-ucapan simpatik Obama yang fasih mengucapkan kata-kata ”Dari Sabang sampai Merauke”,”Bhinneka Tunggal Ika” sampai ”Assalamualaikum” dengan lidah mirip artis Cinta Laura, apalagi saat ia mengatakan,” Diri saya adalah bagian dari Indonesia.” Sejak Indonesia mengadopsi cara-cara demokrasi, sudah tidak ada lagi suara tunggal dalam memandang sesuatu.Semua pendapat itu tumbuh sama suburnya dan sama semangatnya.Ada yang memandang Amerika itu jahat, tetapi ada yang berpikir sebaliknya.

Jahat dan Baik

Anda mungkin masih ingat pesan ibunda seorang anak yang menderita autis dalam film My Name Is Khan.Dalam film itu Khan, seorang pemuda muslim, pernah terekspose sebuah pesan bahwa orang-orang Hindu jahat, sedang muslim baik. Ibundanya pun membersihkan pikiran putranya. ”Tidak benar begitu, yang benar dalam setiap penganut agama apa pun selalu ada orang baik dan ada orang jahat.” Kita semua mungkin pernah mengalami ekspose yang demikian.

Dulu sewaktu kuliah selalu saya saksikan kalimat-kalimat yang ”mengafirkan”, bahkan ”menajiskan”, penganut agama yang berbeda. Bahkan dalam satu agama pun, begitu berbeda paham, seorang teman dengan entengnya berujar, ”Aku beri tahu ya, darahmu itu halal.” Yang lainnya menunjukkan ayat-ayat lain dalam suatu pemilihan ketua senat mahasiswa (semacam BEM sekarang) yang intinya bahwa mereka diwajibkan memilih ”pemimpin yang berasal dari mereka”. Secara implisit dapat saja seseorang menafsirkan begini: ”haram untuk dipimpin oleh orang yang berbeda agama”.Atau ”pemimpin itu imam,maka berarti imam harus seiman karena hanya yang seiman itulah yang suci,yang lain kafir”.

Di tempat lain––juga di dalam kampus––saya sering melihat poster-poster besar yang dipasang penganut suatu agama lain yang mengklaim keyakinannya sebagai kebenaran mutlak.Dengan menyebut nama nabi besarnya,ditulislah kalimat-kalimat besar sesuai dengan yang ada pada ayat kitab sucinya sebagai ”satu-satunya jalan” bagi kebenaran dan kehidupan yang kekal abadi. Bahkan ada yang dengan terbuka mengatakan ”terang tidak bisa bercampur dengan gelap”karena keyakinan yang dianutnya sebagai ”terang”,maka penganut agama lain adalah ”gelap”.

Bagi orang yang gegabah, hal ini (kata gelap) juga dapat ditafsirkan sebagai sesat, tak berujung, tak ada kehidupan kekal (surga). Begitulah sebagian besar kita dibesarkan dalam memori berpikir yang kacau. Di satu pihak begitu kuatnya dogma tentang kebenaran internal masing-masing, di lain pihak kita dibentuk dan dilahirkan dengan falsafah bernegara kesatuan dengan landasan Pancasila yang menghargai keberagaman, kebinekaan. Maka tidak aneh kita menyaksikan amuk massa dan kebencian terhadap keyakinan orang lain telah tumbuh dan terjadi di mana-mana yang ditunjukkan para ”pemuja Tuhan”.

Spirit itu juga membentuk pemahaman kita tentang toleransi beragama di sini yang kadang terasa menggetirkan atau saat menyaksikan hadirnya tamu-tamu asing dengan latar belakang yang berbeda. Spirit membenci kini telah merebak ke mana-mana, termasuk pada isme-isme ekonomi. Saya sering merasa aneh saat menyaksikan pemikir-pemikir hebat, mantan menteri, pengamat, dan seterusnya yang dengan lantangnya menuduh orang lain ”tak bermoral”, ”neolib”, dan seterusnya. Kebencian kok disebarluaskan?

Refleksi

Bangsa-bangsa yang cara berpikirnya kacau seperti di atas akhirnya akan sulit membangun kekuatan daya saing ekonominya. Selain tidak bersatu,tidak ada alignment, bangsa seperti itu menjadi kehilangan kesatuan, berorientasi jangka pendek (instant gratitude), mudah tersinggung, gemar membalas dendam,menggunakan caracara yang tidak jantan dalam berperang, dan secara spiritual jauh dari rasa syukur. Setiap kali menerima banyak, ia akan menuntut lebih banyak lagi karena rasanya baru sedikit yang didapat.

Sebaliknya saat memberi sedikit dari apa yang dimilikinya, tangannya diangkat-angkat ke atas setinggi langit karena seakan-akan dia telah memberi banyak sekali. Di tengah-tengah kedatangan Obama yang memberikan kuliah umum di kampus saya kemarin, saya pun merenungi pesan-pesan moral yang ia tawarkan: kesetaraan gender,toleransi beragama,dan spirit hidup berdemokrasi. Bagi saya, demokrasi dapat kembali ke titik nol bila anak-anak kita dididik dengan cara berpikir yang kacau seperti generasi kita. Anak-anak kita jelas membutuhkan lebih dari sekadar ”kuliah” tentang NKRI dan pluralisme. Anak-anak kita butuh life skills yang menjadi kunci untuk menghadapi persaingan global.

Life skills itu, menurut neuroscientist Ellen Gallinsky, antara lain adalah reflectingdan inhibitory control. Ya, anak-anak kita membutuhkan life skills dalam menghadapi serbuan serangan informasi agar mampu melakukan fokus dan self control baik dalam belajar maupun menghadapi tekanan hidup.Namun, anak-anak kita perlu juga belajar bagaimana caranya menahan mulut dan perasaanperasaannya yang dapat menyakiti orang lain (inilah yang disebut Gallensky sebagai inhibitory control).

Dan yang juga penting adalah keterampilan berefleksi, yang berarti kemampuan berempati, merasakan apa yang dirasakan pihak lain, yaitu pihak yang kita ajak berperang,yang kita perangi. Apalagi mereka adalah minoritas, miskin, tak bertenaga, tergusur, sedang tertimpa bencana, tak memiliki banyak kekuatan, apalagi sendirian. Obama memang bukan minoritas yang lemah. Ia memang datang dari sebuah kekuatan adidaya yang dapat saja bertindak semena-mena. Namun seperti bangsa-bangsa adidaya dan pemilik kekuatan secara mayoritas di mana pun, selalu ada orang jahat dan selalu ada orang baik.

Saya melihat mata yang teduh, semangat persaudaraan dan kejujuran ada di mata Obama. Ia memiliki ”mata baik” yang perlu kita sambut dengan hati terbuka, tapi tetap waspada. Anda boleh tidak setuju, tetapi saya percaya ucapannya saat ia mengatakan: ”Indonesia bagian dari diri saya.” Semoga kita tidak salah.(*)

Semarang Banjir,Lima Tewas

Semarang Banjir,Lima Tewas PDF Print
Wednesday, 10 November 2010
Image

BANJIR BANDANG Pengendara sepeda motor melintas di dekat salah satu sisi bangunan SMP Ndondong yang rusak diterjang banjir bandang, di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, Jateng, kemarin.

SEMARANG(SINDO) – Lima orang tewas akibat banjir bandang,karena jebolnya tanggul Sungai Beringin di Kelurahan Wonosari,Semarang, Jawa Tengah yang terjadi pada Selasa (9/11).

Dari informasi yang di himpun hingga kemarin menyebutkan korban tewas, yakni Mohammad Abdul Rozak, 1,5 tahun, Khoirul, 1 tahun, dan Rizki 2 bulan.Ketiganya adalah warga Kampung Dondong,RT01/06 Kelurahan Wonosari. Dua korban lainnya,Yayuk warga Amarta, 11, PerumTembalang Regency,Tembalang, yang tewas di dalam mobil karena terseret arus air,dan korban lain yang baru saja ditemukan pukul06.30 WIB,kemarin,Sukayati, 25,warga Kelurahan Mangunharjo. Sukayati ditemukan petugas tersangkut bersama sampah di kawasan tambak, Kelurahan Panggung, dalam sebuah penyisiran.

“Kami mendapatkan laporan dari warga salah satu anggota keluarganya tidak ditemukan.Pagi ini (kemarin) korban berhasil ditemukan,” beber salah seorang petugas Basarnas Kota Semarang,Agus. Selain mengakibatkan korban jiwa, banjir bandang bercampur lumpur juga merusak ratusan rumah. Banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Beringin ini mengakibatkan beberapa sekolah, panti asuhan, dan tempat ibadah mengalami kerusakan parah. Salah satu sekolah yang cukup parah adalah MTs Dondong hingga ambruk.

Di Kecamantan Ngaliyan sedikitnya empat RW di Kelurahan Wonosari, yakni RW6,7, 1 dan 2 terendam Lumpur. Selain itu,Kelurahan Purwoyoso, Gondorio dan Wates juga terkena dampak dari banjir bandang tersebut. Sementara untuk Kecamatan Tugu,yang terkenan banjir adalah Kelurahan Mangunharjo, Mangkang Wetan, Panggung. Ratusan rumah mengalami rusak berat dan ringan, bahkan beberapa diantaranya rata dengan tanah akibat terseret arus. Lokasi yang paling parah terkena dampak dari banjir bandang terjadi di Kelurahan Wonosari Ngaliyan. Karena jebolnya tanggung kali beringin berada tepat di belakang perkampungan warga Wonosari. Tanggul Kali Bringin, yang hanya berjarak lima puluh meter dari permukiman warga tersebut jebol sepanjang 100 meter.

Meski tanggul tersebut memiliki ketebalan mencapai lebih dari satu meter,namun tidak mampu menahan derasnya air. Menurut pengakuan salah seorang warga yang rumahnya tidak jauh dari lokasi jebolnya tanggul, mengatakan awalnya airnya hanya sebetis. Namun, tiba-tiba terdengar suara seperti retakan,dan dalam waktu kurang dari 15 menit air langsung menerjang sehingga warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.“Air awalnya hanya sedikit, tapi tiba-tiba langsung menerjang,” ujar Muhzikin warga RT01/06 Wonosari. Banjir yang terjadi sejak Selasa (9/11) malam itu terbilang paling parah dari sebelumnya.Banjir kali ini menyisakan endapan material lumpur hingga ketebalan 50 cm.

Sementara itu, puluhan prajurit TNI dari Kodim 0733 BS,Arhanudse, 400/Rider, Lanal Semarang, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, dan beberapa relawan serta warga setempat terlihat bahu membahu membersihkan endapan lumpur yang terdapat di lokasi banjir.“Dari TNI ada sebanyak 400 personil yang diturunkan hari ini (kemarin),” ujar Kepala Staf Kodim (Kasdim) Mayor Budi Y. Endapan lumpur yang cukup tebal dibersihkan dengan cara disemprot air dari beberapa mobil pemadam kebakaran. Setelah itu diangkut ke truk sampah yang telah disiapkan, tidak hanya menggunakan peralatan manual, juga dikerahkan sejumlah alat berat untuk menyingkirkan lumpur yang masih mengendap di jalan-jalan.

Sementara itu, warga korban banjir mengeluhkan tidak meratanya distribusi bantuan nasi bungkus dari pemerintah. Bahkan, warga belum menerima bantuan sembako dari pemerintah, padahal bantuan tersebut sangat di butuhkan warga. Banjir bandang yang menerjang sejumlah kelurahan di kecamatan Ngaliyan dan Tugu Kota Semarang akibat jebolnya tanggul Kali Bringin,yang jebol hingga 100 meter.Sulastri,75,warga Karanggayam RT3 RW2,Keluarhan Mangunharjo yang rumahnya ambruk akibat diterjang banjir mengaku, sejak pagi dirinya belum diberi nasi bungkus yang dibagikan oleh pemerintah.“ Belum mas,dari pagi belum ada yang memberi,”ujarnya.

Sulastri mengaku,sangat membutuhkan bantuan sembako untuk bisa di konsumsi.Pasalnya seluruh persediaan sembako miliknya, hanyut akibat diterjang banjir.”Ndak ada yang tersisa mas, rumah saya saja ambruk,” kata wanita yang hidup sendiri ini. Hal yang sama diungkapkan oleh Muhzikun warga RT01/06 Wonosari Ngaliyan, Muhzikun dan warga lain di sekitar rumahnya mengaku belum menerima bantuan sembako yang dijanjikan oleh pemerintah.

“ Belum ada mas, bantuan makan saja tadi datang dari warga sekitar yang rumahnya tidak diterjang banjir,”ujarnya. Wali Kota Semarang Soemarmo mengatakan,pihaknya sudah mendistribusikan sembako ke seluruh lokasi yang diterjang banjir. Selain itu juga sudah mengirimkan 5.000 karung dan dua truk pasir untuk membendung tanggul yang jebol. Ditanya soal dana yang disiapkan untuk korban bencana Soemarmo mengaku belum mengetahui jumlah dana yang dianggarkan.

”Anggarannya akan kita ambilkan dari dana tak terduga, kemungkinan sebesar Rp5 miliar, tapi itu untuk sekota Semarang, untuk wilayah yang diterjang banjir,akan dibahas kemudian,”ujarnya. (andik sismanto/ sari septiyaningtiyas)

Sabtu, 23 Oktober 2010

dude harlino

Dude Herlino Rela Botaki Kepala demi Peran Utama PDF Print
Saturday, 23 October 2010
Menjadi peran utama dalam sebuah film memang bukan pekerjaan yang gampang.Seperti dialami Dude Herlino yang rela dicukur botak rambutnya dalam peran terbarunya di film “Dalam Mihrab Cinta”yang disutradarai oleh novelis kondang Habiburrahman El Shirazy.


SYUTING adegan penggundulan rambut Dude Herlino dalam proses pembuatan film ini dilakukan di halaman Masjid Pathok Negoro, Plosokuning, Sleman belum lama ini. Diambilnya lokasi ini karena Masjid Pathok Negoro dianggap unik dan memiliki nilai sejarah yang relevan dengan skenario cerita.

”Masjid ini kan sangat bersejarah. Jadi kami ambil salah satu angle syutingnya di sini.Selain itu, tempat ini sangat relevan dan cocok untuk visual film yang diangkat dari novel saya tulis ini,” ungkap Habiburrahman El Shirazy atau akrab disapa Kang Abik. Dude yang berakting memerankan tokoh Samsul harus dibotaki kepalanya karena dituduh mencuri di pesantren. Sebelumnya, Dude juga bermain dalam film “Ketika Cinta Bertasbih 2”yang juga diangkat dari novel karangan Kang Abik yang merupakan alumni Al-Azhar University Kairo.Dude rela diplontos dengan alasan profesional. “Saya harus botak. Botak abis.

Karena menurut Kang Abik bahwa hukuman di pesantren awalnya adalah dicukur habis, baru diusir dari pesantren.Sejak awal saya memang sudah tahu itu. Saya siap karena saya juga sudah membaca novelnya. Malah menurut saya itu akan menambah nilai dramatis dari cerita film ini,”ungkapnya. Menurut Dude, film yang dibintanginya itu merupakan karya besar, sebab sutradaranya langsung oleh si penulis novel Kang Abik. “Kita bukan bikin sesuatu yang kecildisini,tetapikarya besar.Karya ini bukan hanya akan dinikmati tahun ini,tapi InsyaAllah untuk tahuntahun berikutnya juga,”tuturnya. Selama hidupnya, Dude belum pernah menggunduli kepalanya.

Sehingga saat adegan tersebut,Dude mengaku deg-degan.”Saya tidak boleh setengah-setengah.Apalagi memerankan karakter Samsul dari pemuda baik-baik, sampai yang antagonis sekali, lalu kembali ke jalan yang benar,”ungkap Dude. Diapun tak merasa malu dengan kondisi kepalanya setelah syuting nanti. Salah satunya dengan cara memakai rambut palsu atau wig maupun topi jika dirinya kurang percaya diri.Film yang diproduseri Sinemart tersebut rencananya akan ditayang di bioskop pada akhir Desember 2010 mendatang. (moch fauzi)

gunung merapi semakin kritis

Gunung Merapi Semakin Kritis PDF Print
Saturday, 23 October 2010
ImageSIAGA Kondisi Gunung Merapi terlihat dari Kaliadem, Cangkringan, Sleman, kemarin. Status Gunung Merapi saat ini telah dinaikkan dari waspada menjadi siaga.

SLEMAN (SINDO) – Kondisi Gunung Merapi semakin kritis.Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahkan menyatakan kondisi Gunung Merapi saat ini tidak akan kembali ke posisi normal semula.

“Jika melihat perubahan yang terjadi sejak September hingga saat ini,diperkirakan Gunung Merapi sudah mencapai kondisi point of no return,” ujar Kepala PVMBG Surono saat sosialisasi di Balai Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, kemarin. Dia menuturkan, gempa-gempa yang terjadi di Merapi saat ini lebih besar daripada 2006 lalu.Aktivitas Gunung Merapi sudah meningkat lebih dari 500%.“Apakah artinya gunung ini akan segera meletus, kalau itu yang mengetahui adalah Merapi sendiri,“ katanya. Surono menjelaskan, pada 20 Oktober 2010 atau sehari sebelum gunung ini dinaikkan statusnya menjadi siaga,tercatat telah terjadi 479 kali kejadian gempa multiphase, 39 kejadian gempa vulkanik, dan 29 kali guguran.

“Ciri-ciri lain adalah kandungan air dan gas Merapi sudah sangat berkurang, artinya kondisinya sudah panas sekali.” “Suhu terakhir yang kita catat di kawasan Woro pada20Oktobermencapai 587 derajat Celsius,”katanya. Kemarin, guguran material di Gunung Merapi cenderung meningkat. Menurut Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian(BPPTK) Yogyakarta Subandrio, jarak luncuran guguran material Merapi saat ini sekitar 1,5km denganvolumeyangsemakin besar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Guguran masih tetap mengarah ke Kali Gendol di sisi selatan dan Kali Krasak di sisi barat daya.

Kecenderungan guguran material, menurutnya,akan semakin meningkat hingga kemudian terbentuk kubah lava baru sebelum muncul erupsi. Jika kondisi terus terjadi, Merapi akan meletus sesuai dengan karakteristik normalnya.Namun jika terjadi proses yang berbedajseperti adanya akumulasi gas,jenis letusannya juga berbeda. Di mengatakan, selama status siaga, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III belum perlu diungsikan.Namun, masyarakat yang tinggal dengan radius 7 km dari puncak Merapi tersebut wajib mengungsi apabila status Merapi meningkat menjadi awas atau saat muncul awan panas. “Di KRB III tersebut terdapat sekitar 40.000 jiwa yang tersebar di beberapa kabupaten di sekitar Merapi,” ujarnya.

Ahli geologi UPN Veteran Sari Bagiarti memprediksi ancaman letusan Gunung Merapi tahun ini lebih besar jika dibandingkan dengan peristiwa erupsi tahun 2006. Sebab dalam kurun waktu tersebut, Merapi menyimpan potensi kekuatan yang sangat besar.“Oleh karena itu, status siaga Merapi sudah tepat dan harus diperhatikan oleh semua pihak,”katanya. Saat dihubungi dari Yogyakarta, petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang Heru Suparwoko mengatakan,aktivitas Merapi mengalami intensitas gempa multiphase cukup tinggi.“Sampai pukul 06.00 tadi pagi (kemarin) sudah terjadi gempa sebanyak 154 kali.

Jadi masih tinggi, trennya selalu meningkat,”ujarnya. Namun,dia mengaku kesulitan memantau secara visual Gunung Merapi. Sejak kemarin malam,gunung api paling aktif di dunia ini tertutup kabut tebal sampai menjelang malam. “Secara visual, guguran dan arahnya tidak bisa diamati. Kamera yang dipasang di puncak juga tidak maksimal karena tertutup kabut,”jelasnya.

Ditutup

Seiring peningkatan status Merapi dari waspada menjadi siaga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menutup jalur jalan penambangan pasir di wilayah Kepuharjo dan Glagaharjo.Secara resmi kebijakan ini mulai diberlakukan sejak kemarin. “Penutupan ini berdasarkan hasil rapat koordinasi penanggulangan bencana Merapi, Kamis (21/10) malam,setelah status Merapi dinaikkan menjadi siaga,” kata Kabid Penanggulangan Bencana, Kesbaglinmas,Sleman Taufiq Wahyudi kepada SINDOkemarin. Dia mengatakan, setelah adanya instruksi tersebut, demi menjaga ketertiban, beberapa aparat ditempatkan di lokasi.Namun,lantaran peraturan dan sosialisasi baru dilakukan kemarin, aktivitas pengangkutan dan penambangan masih dilakukan.

“Kita berharap mulai besok (hari ini) sudah ada penurunan penambangan bahkan berhenti sama sekali,”ujarnya. Selain menutup jalur jalan penambangan pasir,pemkab juga mulai mendistribusikan masker kepada masyarakat di kawasan rawan bencana (KRB) III kemarin.Pemkab menyiapkan 45.000 masker.“Kami juga mendistribusikan peralatan dapur dan melakukan sosialisasi tentang status merapi kepada warga di KRB III,”ujar Taufiq Wahyudi. Selain itu,posko utama penanggulangan bencana Merapi di Pakem dan sejumlah posko yang ada di kecamatan dan desa-desa yang ada di KRB III diaktifkan kembali. “Termasuk semua petugas yang terkait dengan masalah Gunung Merapi mulai Jumat (22/10) juga sudah siap siaga menghadapi bahaya bencana Merapi,”katanya. Tim SAR Linmas DIY menyiapkan enam tenda sebagai tempat pengungsian sebagai antisipasi bencana Gunung Merapi.

Tenda tersebut multifungsi, misalnya untuk dapur, rumah sakit atau balai pengobatan.Kondisi enam tenda dalam keadaan bagus. Koordinator Operasi SAR Linmas DIY Amtono mengatakan, enam tenda merupakan milik provinsi yang bisa digunakan jika kabupaten/ kota membutuhkan. “Saat ini, kondisi Merapi sudah meningkat sehingga kami bersiapsiap mendirikan enam tenda tersebut,” ujarnya. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap masyarakat tidak panik menghadapi peningkatan aktivitas Merapi. Dia mengaku sudah memberikan arahan kepada semua instansi pemerintah di tingkat provinsi maupun kabupaten terkait penanganan bencana erupsi Merapi.

“Merapi tidak pernah meletus, hanya meleleh saja.Kira-kira enam hingga delapan kilometer dari puncak. Ya semoga tidak (meletus)- lah,” ujarnya. Sultan belum memberikan imbauan kepada masyarakat untuk segera mengungsi. Dia masih menunggu perkembangan aktivitas Merapi. Sementara itu, Pemprov Jawa Tengah mulai menyiapkan skenario pengungsian. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Prijantono Jarot Nugroho mengatakan, selama ini tempat pegungsian sementara (TPS), maupun tempat pengungsian akhir (TPA) sudah disiapkan.

“Baik itu di Kabupaten Magelang, Klaten,maupun Boyolali,semuanya sudah siap,”ungkapnya kemarin. Menurut Jarot,warga akan diungsikan jika aktivitas Merapi terus meningkat. Hanya saja Jarot belum bisa memastikan, jumlah warga yang akan diungsikan tersebut.“ Yang jelas kita pantau terus aktivitas Merapi itu,”ujarnya. (mn latief/priyo setyawan/ muh slamet/ridwan anshori/ant)

perbaikan di arafah di kebut

Perbaikan di Arafah Dikebut PDF Print
Friday, 22 October 2010
Image

JEMBATAN MINA Beberapa pekerja berada di jembatan yang menghubungkan Mina dan Muzdalifah yang masih dalam proses pengerjaan di Mina, Mekkah, kemarin. Jembatan tersebut diharapkan dapat digunakan pada puncak prosesi haji.


MEKKAH (SINDO) – Padang Arafah yang akan dijadikan lokasi wukuf terus dilakukan perbaikan.Perbaikan itu diharapkan akan selesai lima hari menjelang wukuf atau sebelum maktab diserahkan ke masing-masing negara. Dari pantauan SINDO, ribuan pekerja dikerahkan untuk memperbaiki lokasi ibadah yang digunakan hanya setahun sekali ini.

Tahun ini Pemerintah Arab Saudi membangun beberapa jembatan di Arafah. Jembatan-jembatan ini menghubungkan antara maktab satu dan lainnya.Jembatan ini juga untuk mempermudah rute menuju ke Muzdalifah. Selain jembatan,perbaikan beberapa ruas jembatan juga terus dikebut. Ratusan alat berat dikerahkan untuk memperlebar sekaligus mengaspal jalan.Beberapa tebing tampak dikepras dan kemudian dikuatkan dengan bangunan agar tidak terjadi longsor.Jalan pemisah antara perkemahan satu dan lainnya juga dilengkapi paving block. Ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu.Karena tidak ada perawatan, banyak paving blockyang rusak.

Ribuan kamar mandi dan toilet bahkan mulai dibersihkan.Beberapa pekerja yang umumnya dari Pakistan dan Bangladesh itu memperbaiki saluran air yang rusak. Lampu-lampu penerang jalan juga diperbanyak. Rambu-rambu atau penunjuk arah mulai dipasang. Untuk menjamin kelancaran komunikasi, sejumlah provider telekomunikasi seperti STC, Mobily, dan Zain juga memasang basetransceiverstation(BTS). Namun, hingga kemarin belum ada keputusan pasti di mana lokasi perkemahan yang akan ditempati jamaah haji Indonesia.Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi Subhan Cholid mengatakan, pihaknya juga belum bisa memastikan penempatan maktab-maktab Indonesia.Pemerintah Arab Saudi baru akan mengajak rapat PPIH dan penyelenggara haji negara lain pada 20 Zulkaidah mendatang.

Dari tanggal itu, persiapanpersiapan baru bisa dimatangkan. PPIH pun tidak bisa langsung mengerjakan atau membenahi maktab karena penyerahan maktab dari Pemerintah Arab Saudi biasanya pada 5 Zulhijah. ”Ini memang menjadi kekhawatiran saya. Namun, Pemerintah Arab Saudi selalu begitu,menyerahkan pada waktu yang mepet,”kata dia. Selain waktu mepet,lokasi maktab juga tidak bisa ditawar.Dengan demikian, mau tidak mau, PPIH akan menyesuaikan keputusankeputusan dari Pemerintah Arab Saudi. Lokasi maktab tidak mesti sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Termasuk tenda utama yang digunakan Misi Haji Indonesia juga berubah-ubah. Terkadang lokasinya di dekat maktab,tapi pernah pula di luar maktab.“Mudahmudahan kita bisa melakukan checkingterakhir,”harapnya.

Dia menambahkan, fasilitasfasilitas di Arafah tidak terlalu berbeda dibanding tahun lalu. Dia mengakui saat ini ada beberapa pembenahan jalan dan jembatan. Namun, pembenahan itu tidaklah terlalu signifikan. Perubahan yang paling mencolok adalah layanan monorel (qithar almasyair).Namun, fasilitas baru ini pun belum bisa dinikmati jamaah haji Indonesia karena masih dikhususkan jamaah asal Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya. Jika tak meleset, jamaah Indonesia akan bisa menikmati monorel mulai tahun ini.Dari pantauan terakhir, pengerjaan monorel rute Arafah-Muzdalifah- Mina memasuki tahap finishing. Beberapa kereta yang dijadikan sarana pengangkut jamaah juga terus diuji coba.

Duta Besar RI untuk Arab Saudi dan Kesultanan Oman Gatot Abdullah Mansyur belum lama ini sudah melakukan pertemuan dengan Gubernur Mekkah terkait layanan monorel ini.Menurut Gatot, monorel ini sementara bisa mengangkut 150.000–200.000 jamaah Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya. Monorel ini akan menghubungkan kota-kota perhajian yakni Mekkah dan Madinah. KepalaSeksiPengamananPPIH Arab Saudi Dadang mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengecekan di Arafah beberapa hari lalu. Dia mengakui banyak perbaikan yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi untuk memperlancar proses wukuf tahun ini. (abdul hakim)